Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami kenaikan pada pembukaan perdagangan Kamis. Pergerakan rupiah menguat 50 poin atau 0,28 persen menjadi Rp17.713 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.
Rupiah Menguat di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyoroti bahwa ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mengakibatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Serangan balasan yang dilakukan oleh militer Iran terhadap pangkalan AS di beberapa negara di Timur Tengah memicu kenaikan skeptisisme investor terhadap proses negosiasi perdamaian.
Dikutip dari berita Sputnik, militer Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat sebagai tindak balas terhadap serangan yang dilakukan AS sebelumnya. Hal ini berdampak pada kondisi pasar keuangan global dan harga minyak dunia.
Ketidakpastian di Timur Tengah Mempengaruhi Pergerakan Rupiah
Peningkatan ketegangan di Timur Tengah juga berdampak langsung pada pergerakan nilai tukar rupiah. Menurut Josua, krisis di wilayah tersebut menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi prospek nilai rupiah terhadap dolar AS.
Media Iran melaporkan adanya ledakan di beberapa daerah seperti Pulau Qeshm, Bandar Abbas, Sirik, Chabahar, dan Konarak setelah pengumuman serangan yang dilakukan oleh Komando Pusat AS. Hal ini menciptakan ketidakpastian yang lebih tinggi di pasar keuangan global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Dengan kondisi tersebut, diperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.825 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan.








