Wednesday, October 7, 2026
HomeSepakbolaSuporter PSIM dan PSS Berdamai, Ini Sejarah Perseteruannya

Suporter PSIM dan PSS Berdamai, Ini Sejarah Perseteruannya

Empat kelompok suporter PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman menandatangani kesepakatan untuk menjaga keamanan serta keharmonisan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjelang Derbi Mataram pada BRI Super League 2026/2027. Kesepakatan itu dibuat di Mapolda DIY, Rabu, 16 September, dengan disaksikan sejumlah pemangku kepentingan.

Perwakilan yang terlibat berasal dari Slemania dan Brigata Curva Sud (BCS) sebagai pendukung PSS, serta Brajamusti dan Mataram Independent atau The Maident dari kubu PSIM. Hadir pula manajemen kedua klub, Match Organizing Committee (MOC), Wali Kota Yogyakarta, Bupati Sleman, Asprov PSSI DIY, serta jajaran Polda DIY.

Dalam komitmen tersebut, para suporter menyatakan kesediaan menjaga keamanan pertandingan, menghindari provokasi, serta tidak melakukan tindakan anarkis di dalam maupun luar stadion. Mereka juga berjanji menjaga ketertiban lalu lintas saat berangkat dan pulang dari stadion, tidak membawa barang berbahaya, serta menghindari penyebaran narasi negatif di media sosial.

Rivalitas yang memiliki sejarah panjang

PSIM bermarkas di Kota Yogyakarta, sedangkan PSS berasal dari Kabupaten Sleman. Pertemuan kedua klub kemudian dikenal sebagai Derbi Mataram, merujuk pada keterkaitan sejarah kawasan Mataram dengan wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Rivalitas keduanya mendapat perhatian lebih besar ketika PSS promosi ke kasta teratas pada musim 1999/2000, sementara PSIM harus turun ke kasta kedua. Kedekatan geografis dan persaingan di lapangan turut memperkuat rivalitas di antara basis pendukung masing-masing klub.

PSIM didukung Brajamusti dan The Maident, sedangkan PSS memiliki Slemania dan BCS. Keempat kelompok tersebut berkembang dengan karakter dan identitas masing-masing. Namun, persaingan yang semestinya berlangsung dalam ranah olahraga beberapa kali berujung pada bentrokan.

Penelitian Universitas Gadjah Mada mengenai konflik Slemania dan Brajamusti mencatat perselisihan kedua kelompok telah berlangsung sejak sekitar 2000. Dalam penelitian itu, atribut klub dan fanatisme disebut sebagai salah satu faktor yang dapat memicu gesekan.

Catatan paling kelam terjadi pada 22 Mei 2016. Bentrokan di Jalan Magelang KM 14 menyebabkan pendukung PSS, Stanislaus Gandhang Deswara, meninggal dunia. Pada 26 Juli 2018, Muhammad Iqbal Setyawan, yang disebut sebagai penonton non-suporter, juga meninggal setelah menjadi korban pengeroyokan dalam kerusuhan yang berkaitan dengan laga Derbi Mataram.

Derbi kembali digelar di kasta tertinggi

Upaya meredakan rivalitas telah dilakukan sebelumnya. Pada April 2018, Polda DIY mempertemukan perwakilan Brajamusti, The Maident, Slemania, dan BCS dalam acara Rekonsiliasi dan Paseduluran Suporter. Mereka saat itu diajak membuat ikrar bersama untuk menjaga keamanan pertandingan.

Kesepakatan terbaru juga memuat larangan melakukan perusakan, penganiayaan, pembakaran, penghadangan, maupun tindakan melanggar hukum terhadap pemain dan suporter lawan. Klub dan suporter menyatakan siap menerima pengalihan lokasi pertandingan apabila kondisi keamanan tidak memungkinkan.

Derbi Mataram pertama musim 2026/2027 dijadwalkan berlangsung pada 10 Desember 2026. PSIM akan bertindak sebagai tuan rumah di Stadion Sultan Agung, Bantul. Laga ini menjadi bagian dari kembalinya PSS ke kompetisi kasta tertinggi setelah sebelumnya bermain di Liga 2 atau Championship. PSIM sendiri menjalani musim kedua di level teratas setelah promosi.

Kehadiran penonton dalam pertandingan tersebut masih menunggu evaluasi keamanan. Polda DIY menyatakan keputusan teknis akan ditentukan berdasarkan analisis dan perkembangan situasi menjelang hari pertandingan. Perwakilan suporter PSIM Rendi Agung menyatakan komitmen itu akan dijaga hingga tingkat akar rumput, sementara perwakilan Slemania Tato Indarto menilai langkah tersebut penting untuk menjaga nama baik sepak bola di Sleman dan Yogyakarta.

Source link

RELATED ARTICLES
spot_img

Paling Populer