Pakar kebijakan publik dari Universitas Nusa Cendana, Prof. David B. W. Pandie, mengapresiasi kebijakan energi baru dan terbarukan (EBT) pemerintah yang mengarah ke arah yang benar. Namun, Prof. David menekankan perlunya strategi yang tepat untuk mencapai target ambisius Presiden Prabowo Subianto terkait swasembada energi dengan transisi energi hijau. Dia menyoroti pentingnya komunikasi yang lebih jelas terkait desain implementasi kebijakan tersebut kepada publik agar dapat memahami setiap tahapan dan indikator keberhasilannya.
Untuk mendukung swasembada energi, Prof. David menekankan dua hal penting. Pertama, perlunya edukasi kepada masyarakat terkait kondisi energi Indonesia sekarang yang terdapat krisis akibat impor energi dan kebocoran subsidi, agar masyarakat dapat menggunakan energi secara bijak. Kedua, pentingnya melibatkan perguruan tinggi untuk melakukan riset EBT guna membangun generasi yang peduli terhadap energi. Prof. David juga menyoroti pentingnya pemahaman ilmu EBT yang sesuai dengan kondisi lokal untuk mencapai swasembada energi dan pemanfaatan teknologi yang cepat.
Di sisi lain, pakar energi Prof. Fredrik Lukas Benu dari Undana NTT memandang diversifikasi energi sebagai kunci untuk mencapai target bauran EBT pada 2030. Dia menyarankan pemerintah melirik daerah-daerah potensial untuk menyuplai EBT nasional, seperti NTT yang memiliki sumber energi strategis seperti biomassa, energi surya, dan angin. NTT diharapkan bisa memberikan suplai energi terbarukan untuk daerah lain, bahkan sudah ditawarkan ke Jawa Timur dan Bali.
Kementerian ESDM juga mengumumkan pertumbuhan bauran energi yang tertinggi dalam satu tahun, mencapai 16 persen, yang sejalan dengan target dalam RUKN dan RUPTL PLN. Capaian ini menunjukkan bahwa langkah-langkah pemerintah terkait EBT sudah berjalan sesuai rencana untuk mencapai target bauran energi yang ditetapkan.








