Kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat telah menimbulkan dampak yang cenderung moderat bagi Indonesia, menurut Fadhil Hasan dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Beberapa produk ekspor Indonesia yang terdampak termasuk tekstil, garmen, alas kaki, dan minyak kelapa sawit. Meskipun demikian, Indonesia diperkirakan akan menghadapi dampak yang lebih moderat dibandingkan dengan negara-negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia. Saat ini, Amerika Serikat merupakan partner dagang terbesar kedua bagi Indonesia setelah China.
Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan kenaikan tarif minimal 10 persen bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Indonesia berada di urutan kedelapan dalam daftar negara yang terkena kenaikan tarif AS, dengan besaran 32 persen. Dampak kenaikan tarif juga dialami oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.
Tujuan dari tarif timbal balik tersebut adalah untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja di Amerika Serikat. Trump dan para pejabat pemerintahannya berpendapat bahwa AS telah “dirugikan” oleh praktik perdagangan yang dianggap tidak adil. Tarif-tarif yang telah lama diancamkan Trump itu diumumkan dalam acara “Make America Wealthy Again” di Rose Garden, Gedung Putih.








